Modifikasi Mobil Hemat Energi Jogjakarta



Yogyakarta -Memasuki hari kedua, Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2016 yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM di kompleks Candi Prambanan semakin meriah. Persaingan antar peserta dari 38 perguruan tinggi dan politeknik se-Indonesia semakin ketat.

Semua peserta ingin tampil terbaik dan bisa menggondol juara. Pada hari kedua, Kamis (3/11/2016), sebanyak 59 mobil yang terdiri dari 2 jenis mobil, urban dan prototype secara bergiliran beradu. Kontes mobil hemat energi ini dibagi menjadi dua kategori, urban dan protype, masing-masing kategori dibagi lagi menjadi empat jenis sumber energi yakni listrik, gasoline (bensin), diesel, dan etanol.

Masing-masing peserta mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan lima kali race/putaran dengan waktu tempuh maksimal 30 menit. Sebelum beradu di lintasan mengelilingi sekitar Kompleks Candi Prambanan hingga Candi Sewu, semua mobil di cek ulang oleh panitia.

Baca Juga :

Pengecekan mulai dari rem untuk mengetahui dengan pasti pengereman berfungsi dengan baik atau tidak. Selanjutnya pengecekan bahan bakar. Setelah diperiksa semuanya, baru diperbolehkan memasuki lintasan oleh panitia.

Salah satu mobil yang berlaga dalam kategori prototype berjenis bahan bakar bensin adalah mobil Si Pitung. Sesuai dengan namanya, legenda asal Betawi saat melawan penjajah belanda itu diharapkan oleh para penggagasnya bisa menang dalam kontes mobil kali ini.

"Sesuai dengan namanya, kita ingin mobil ini nantinya bisa menang," kata M. Akbar Wiguna, mahasiswa Teknik Mesin dari Universitas Negeri Jakarta (UMJ) kepada wartawan seusai lombai.

Akbar bersama delapan orang anggota tim lainnya mengungkapkan Si Pitung dalam satu kali ujicoba pertama berhasil melampui jarak 495 kilomerter dengan menghabiskan 1 liter bensin. Capaian kemampuan hemat energi Si Pitung ini menurutnya belum maksimal dari rekor yang pernah dicapainya dalam kontes yang sama dua tahun lalu di Surabaya.

"Dulu bisa juara pertama karena bisa mencapai 646 kilometer per liter," tuturnya.

Tim dari Batavia gasoline team ini menargetkan agar Si Pitung bisa melampui jarak 800 kilometer per liter pada akhir perlombaan nanti.

"Kita punya empat kali kesempatan lagi untuk menguji mobil ini betul-betul hemat energi," katanya.

Menurutnya untuk merakit Si Pitung dibutuhkan waktu satu tahun. Didominasi corak warna hijau dan hitam ini, biaya perakitannya menghasbiskan dana sekitar Rp 50 juta rupiah. Salah satu tantangan dalam pembuatan mobil hemat energi adalah komponen pabrikasi. Sekitar 80 persen komponen dari mobil Pitung ini berasal dari bahan lokal.

"Komponen lokal mencapai 80 persen, kita kerjakan di bengkel lokal dan di bengkel kampus," katanya.

Ridwan Nugroho, panitia KMHE bagian electrical inspection menuturkan, memasuki hari kedua perlombaan terdapat dua mobil peserta yang dinyatakan belum lolos untuk uji elektrifikasi guna memenuhi syarat mengikuti perlombaan. Kedua mobil tersebut dari kategori urban car dan prototype car.

"Kedua tim peserta kita minta untuk memperbaiki lagi mobilnya sampai mereka bisa lolos uji," katanya.

Selama kontes berlangsung hingga Jumat malam (4/11), semua peserta harus mengikuti 10 tahapan uji inspeksi mobil yang dipersyaratkan oleh panitia agar bisa mengikuti kontes. Penentuan pemenang ditentukan dari kemampuan terbaik mobil dalam menghabiskan energi paling sedikit namun jarak tempuh yang dilalui lebih panjang.

Sumber : oto.detik.com
penulis : Bagus Kurniawan


Emoticon Emoticon

close